Sejarah Asal Usul Air Zamzam

Loading...
Advertisement


loading...

Sejarah Asal Usul Air Zam zam – Umat Muslim yang datang ke Makkah dapat melihat sumur zamzam yang masih ada sampai sekarang. Sumur ini letaknya 11 meter dari Ka’bah dengan kedalaman 30 meter. Jarak permukaan air dengan pinggiran sumur adalah 4 meter. Karena banyak sekali jamaah haji yang ingin mendapatkan air zamzam, pemerintah Saudi Arabia sudah menyiapkan tempat penyimpanan air zamzam ini di berbagai tempat. Hal ini memudahkan setiap jamaah haji untuk mengambil air zamzam ini secara gratis. Bagaimana sejarah asal mula air zamzam tersebut? Berikut ini kami akan menyajikan asal-usul pertamakali sejarah air zamzam.

sejarah air zam zam

Sejarah Air Zam Zam

Nabi Ibrahim memiliki dua orang istri, yaitu Siti Sarah dan Siti Hajar. Pada suatu hari, kedua istri Nabi Ibrahim itu bertengkar sehingga Siti Sarah bersumpah tidak akan tinggal satu tempat dengan Siti Hajar. Saat itu, turunlah wahyu kepada Nabi Ibrahim agar mengajak Siti Hajar dan Nabi Isma’il, putranya yang masih kecil dan masih menyusu, pergi ke Makkah. Nabi Ibrahim pun kemudian mengajak Siti Hajar dan Nabi Isma’il yang masih bayi pergi ke Makkah. Saat itu, Kota Makkah masih belum berpenghuni dan belum banyak sumber mata air. Mereka tiba di sebuah lembah dan tinggal di bawah sebuah pohon kering yang kelak di tempat itu akan berdiri Ka’bah. Setelah sampai di tempat itu, Nabi Ibrahim menyerahkan beberapa butir kurma dan sekantong air untuk mereka. Beliau kemudian meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Isma’il begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi.

Siti Hajar tentu saja sangat kaget melihat suaminya meninggalkan mereka begitu saja. Tempat itu begitu sepi. Tidak terlihat ada satu orang manusia pun. Siti Hajar bergegas mengejar Nabi Ibrahim. “Mau ke mana, wahai Ibrahim? Kenapa kami ditinggalkan berdua saja di sini?” tanyanya dengan cemas. Di sekelilingnya tidak terlihat ada kehidupan apa pun selain hamparan tanah pasir yang tandus.

Nabi Ibrahim tidak menjawab pertanyaan istrinya. Bahkan, menoleh pun tidak. Oleh karena itu, Siti Hajar terus mengikutinya sambil mengulang pertanyaannya berkali-kali. Nabi Ibrahim tetap saja bungkam. Beliau terus berjalan tanpa memedulikan pertanyaan istrinya.

“Apakah Allah Swt yang menyuruhmu meninggalkan kami di sini?” tanya Siti Hajar akhirnya.

“Ya” jawab Nabi Ibrahim singkat.

“Baiklah, kalau begitu. Kami akan tinggal di sini sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah Swt.” Siti Hajar menghentikan langkahnya dan membiarkan Nabi Ibrahim meninggalkannya berdua dengan Isma’il. Hatinya merasa lebih tenteram karena dia percaya Allah Swt akan menjamin hidupnya walaupun harus tinggal di tempat yang sunyi dan jauh dari kehidupan manusia lainnya.

Di atas bukit yang jauh dari tempat istri dan anaknya ditinggalkan. Nabi Ibrahim menahan rasa sedihnya. Sungguh berat rasanya meninggalkan mereka di tempat yang begitu sepi tanpa makanan dan minuman yang cukup. Nabi Ibrahim menengadahkan tangannya dan memanjatkan doa kepada Sang Khalik untuk keselamatan dan kemudahan hidup bagi anak dan istrinya.

loading...

Siti Hajar dan Nabi Isma’il hidup dalam kesepian. Mereka hanya menggantungkan hidup dari beberapa butir kurma dan sekantung air yang diberikan Nabi Ibrahim sebelum pergi. Udara gurun yang begitu panas membuat Nabi Isma’il yang masih bayi sering merasa kehausan. Sementara itu, persediaan air yang ada pun lambat laun menipis dan kemudian habis. Nabi Isma’il menangis karena kehausan.

Siti Hajar begitu panik dan cemas melihat putranya menangis dan membutuhkan air. Dia tidak tahu harus ke mana mencari air untuk melepaskan rasa dahaga putranya. Dengan terpaksa, Siti Hajar meninggalkan Nabi Isma’il kecil dan berlari ke Bukit Shafa untuk melihat apakah ada orang yang melintas dan bisa memberikan mereka minum? Ternyata, tidak ada satu orang pun yang terlihat. Siti Hajar pun berlari kembali menuruni lembah dan pergi ke Bukit Marwah. Dari atas bukit Marwah pun, tidak ada seorang pun yang bisa menolongnya. Ibunda Nabi Isma’il ini kembali berlari ke arah Bukit Shafa, kemudian kembali ke Bukit Marwah. Beliau melakukan hal itu sampai tujuh kali untuk mencari bantuan. Ternyata, tidak ada seorang pun yang bisa menolongnya.

Ketika sedang berada di atas bukit Marwah, Siti Hajar tiba-tiba mendengar suara. Setelah selama tadi berlari ke sana kemari tidak melihat seorang manusia pun, Siti Hajar berpikir bahwa itu suara hatinya saja. Rasa letih mungkin membuat pikirannya kacau.

“Diam!” kata Siti Hajar pada dirinya sendiri. Tapi, suara itu terdengar kembali. Ternyata, beliau benar-benar mendengar sebuah suara.

Tiba-tiba saja, Siti Hajar melihat Malaikat Jibril berdiri di dekat Nabi Isma’il yang sedang menghentak-hentakkan kakinya sambil menangis. Ternyata, suara yang didengarnya tadi adalah suara Malaikat Jibril yang menunjukkan lokasi adanya air, yaitu di tempat Nabi Isma’il menghentakkan kakinya.

Tanpa menunggu lama, Siti Hajar langsung menggali tanah di tempat itu sampai akhirnya air pun keluar dengan derasnya. Siti Hajar segera meminumkannya kepada Nabi Isma’il.

Pada saat itu, Malaikat Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah Swt. Tidak akan menelantarkan hamba-Nya. Dan sesungguhnya di sinilah Ka’bah akan didirikan oleh anak ini bersama ayahnya nanti.”

Air yang memancar dari dalam tanah itu terus mengalir. Siti Hajar berusaha menampungnya dengan meletakkan batu-batu di sekeliling mata air tersebut. Akan tetapi, air terus mengalir sehingga Siti Hajar meneriakkan kata zamzam. Dipercayai bahwa kata zamzam itu berasal dari ungkapan zomk-zomk yang artinya “berhenti mengalir” karena pada saat itu Siti Hajar sedang mencoba menampung air yang terus mengalir ke luar.

Saat ini salah satu rukun haji bagi jamaah haji yang sedang melaksanakan ibadah haji adalah Sa’i, yaitu berlari-lari kecil atau jalan cepat antara Bukit Shafa dan Marwah. Sa’I, yaitu berlari-lari kecil atau jalan cepat antara Bukit Shafa dan Marwah. Sa’I ini bertujuan untuk mengingat peristiwa saat Siti Hajar mencari air bagi Nabi Isma’il dan dirinya.
Sementara itu, Rasulullah Saw pernah bersabda tentang air zamzam, “Sebaik-baik air di muka bumi adalah air zamzam. Zamzam merupakan makanan yang mengenyangkan dan penawar segala macam penyakit.”

Seperti itulah Sejarah awal air Zamzam, semoga bermanfaat.

Referensi:

  • Abqary, Ridwan.2009. Kisah Menakjubkan dalam Al-Quran. Bandung: Mizan.
Advertisements
Sejarah Asal Usul Air Zamzam | Nur | 4.5